Selalu Mengingat kematian

November 1st, 2008 by mujahidah-sea

Demi masa sesungguhnya manusia kerugian, melainkan yang beriman dan yang beramal shaleh.Ingat lima perkara sebelum lima perkara, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin,lapang sebelum sempit, muda sebelum tua, dan hidup sebelum mati. Rezeki, maut, jodoh memang sudah menjadi ketentuan dan rahasia ilahi. Suami yang gagah, istri yang cantik, harta yang melimpah tidak ada satupun yang dapat melawan datangnya maut. Orang yang kita sayangi kalau memang Alloh sudah memanggil-Nya kita tidak bisa berbuat apa-apa.Karena semua itu hanyalah titipan (amanah) untuk kita di dunia yang semua itu hanyalah milik Sang Penguasa kehidupan ini yang tiada lain adalah Alloh SWT.

Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Rabbmulah kamu akan dikembalikan. (As-Sajdah:11)

Hari demi hari, bulan demi bulan, bulanpun berganti tahun. Berpuluh tahun yang lalu, waktu itu kita masih dalam rahim ibunda, kemudian terlahir menjadi bayi mungil yang menggemaskan, lalu tumbuh menjadi balita yang lucu, dilanjutkan dengan menjadi anak-anak, kemudian remaja dan jadilah seperti sekarang yaitu menjadi dewasa, menjadi orang tua anak-anaknya ataupun sudah mempunyai cucu. Karena sunnatullah, sebuah ketetapan dari Allah Subhanahu wa ta’ala seiring dengan berjalannya waktu kita manusia pasti akan berubah menjadi tua dan kemudian mati.

Begitu kira-kira gambaran sederhana tentang siklus hidup manusia di dunia. Dalam perjalanannya, kadang-kadang ada orang yang melewati hidupnya sampai ia berumur seratus tahunan lebih, 80an, 60an, atau rata-rata manusia dapat bertahan hidup. Ada pula yang hanya menikmati kehidupan hanya separuh abad. Namun tak jarang pula, yang masih muda, badan terlihat sehat dan sempurna, tidak sedikit yang sudah meregang nyawa, tentu dengan cara dan jalan yang berbeda-beda. Dan banyak pula cerita tentang bayi yang masih dalam kandungan yang belum sempat merasakan hidup di dunia, dan belum sempat merasakan hangat pelukan Ibunya, dibunuh (aborsi) oleh ibunya sendiri lantaran kehadirannya tidak dikehendaki, karena kehamilannya buah dari hubungan yang terlarang yang bisa membawa aib bagi diri dan keluarganya, na’udzubillah min dzalik.

Karena ajal memang tak pernah memilih kita sudah tua atau muda, masih panjangkah jatah waktu kita hidup ataukah sudah habis masa untuk berpijak di bumi ini. Dan kebanyakan dari manusia melupakan akan datangnya kematian, mereka lupa kalau ajal selalu mengintai di manapun mereka berada. Mereka terlupakan oleh ramainya dunia, terlena dengan manisnya syahwat, silau dengan gemerlapnya harta. Terlalu sibuk dengan keinginan-keinginan yang belum kita capai. Adalah baik ketika keinginan atau cita-cita kita adalah hal yang berorientasikan akherat, tapi kebanyakan dari kita dilenakan oleh keinginan-keinginan yang bersifat kesenangan semu belaka.

Sampai-sampai kita lupa bahwa kematian sudah sampai di pelupuk mata. Semua terperdaya oleh hingar-bingarnya dunia ini. Kebanyakan waktu hidupnya digunakan untuk sibuk kesana-kemari menggali, mengelola dan menumpuk harta. Dan saat-saat ketika sakaratul maut itu datang menghampiri barulah ia sadar betapa kehidupan di dunia amatlah singkat, dan merataplah ia dengan penyesalan yang sangat ketika menyadari bahwa umurnya telah habis untuk urusan-urusan pangkat, syahwat dan harta. Tinggallah kini menunggu kedatangan malaikat maut dan merasakan betapa tersiksa dan sakitnya saat sakaratul maut. Sakit yang tak dapat dikira karena amat terasa sakitnya.

Sebagian ulama menegaskan bahwa rasa sakit pada sakaratul maut hanya diketahui hakikatnya oleh orang yang sudah merasakannya. Orang yang belum merasakannya tentu hanya bisa mengetahuinya sekedar berdasarkan analogi dengan berbagai rasa sakit yang pernah dirasakan.

Rasa sakit pada sakaratul maut langsung menghunjam ruh itu sendiri sehingga menerobos seluruh organ-organ tubuhnya, seluruh jaringan sarafnya, seluruh urat-urat. di tubuhnya, bahkan juga seluruh persendian tubuhnya, hingga merambati akar rambut dan kulit dari atas kepala hingga ujung kaki

Jangan tanyakan rasa sakitnya. Sehingga sebagian orang mengatakan bahwa Kematian itu lebih menyakitkan daripada sabetan pedang, daripada gigitan gergaji dan sayatan gunting, karena rasa sakit akibat sabetan pedang, gigitan gergaji, dan sejenisnya hanya dirasakan karena adanya ruh atau nyawa. Bagaimana pula apabila yang dicabut adalah ruh sendiri ? Orang yang ditebas pedang masih dapat berteriak minta tolong karena masih tersisa kekuatan dalam hati dan pada lisannya. Akan tetapi orang yang menghadapi sakaratul maut sudah kehilangan suara dan teriakannya, kekuatannya sudah melemah, dan energi tubuhnya sudah musnah. Hal ini karena musibah sakaratul maut terkadang terlalu berat sehingga menguasai hati dengan rasa sakit yang dahsyat sehingga melumpuhkan seluruh anggota tubuh, mengguncang seluruh organ tubuh, dan melemahkan seluruh jengkal bagian tubuh, sehingga tidak tersisa lagi kekuatan untuk meminta pertolongan.

Bahkan, akal sekalipun telah tertutupi dan terganggu pula karena rasa sakit sakaratul maut; sementara lidah tiba-tiba menjadi bisu. Seluruh anggota tubuh menjadi lemah. Orang yang berada sakaratul maut berharap untuk dapat beristirahat sejenak melalui erangan dan teriakan atau melalui cara lain. Akan tetapi ia tidak mampu melakukannya. Kalaupun masih tersisa kekuatan, pasti saat ruh dicabut dan diangkat dari dalam tubuh akan terdengar gerengan dan suara kerongkongan dan dadanya. Namun, saat itu warna tubuhnya sudah berubah dan rasa sakit sudah menyerang seluruh tubuhnya, bagian luar maupun bagian dalamnya. Hingga akhirnya bagian hitam matanya naik sampai menyentuh kelopak mata, sementara lidah tertarik ke dalam hingga pangkalnya dan jari jemari juga menjadi kaku.

Maka, jangan ditanya lagi kondisi orang tersebut tatkala urat-uratnya seperti tercabut satu persatu. Masing-masing anggota tubuh kemudian mulai menjadi mati secara bertahap. Mulanya kedua kaki menjadi dingin, lalu kedua betisnya, kemudian kedua pahanya. Masing-masing anggota tubuh mengalami sakaratul maut dan mengalami musibah rasa sakit pada saat itu, hingga nyawa sampai di kerongkongan. Pada saat itulah pandangannya terhadap dunia dan penghuninya mulai sirna, dan pintu tobat pun sudah tertutup baginya. Dan tinggallah penyesalan dan kekecewaan yang mendalam menggelayuti dirinya.

Saudaraku tercinta, tidakkah engkau mengetahui bahwa kunjungan malaikat maut itu adalah sesuatu yang pasti ? telah ditakdirkan semenjak masa azali, panjang ataupun pendek umur kita ? Tidakkah kita menyadari bahwa kita semua hanya musafir yang akhirnya akan sampai tujuan dan meninggalkan perjalanannya ? Tidakkah kita menyadari bahwa perputaran hidup ini pasti berhenti, dan perputaran usia semakin mendekati penghujungnya ?.

Tidakkah kita menyadari bahwa setelah kunjungannya kita tidak akan mampu lagi melakukan satu kebajikan sekalipun ? kita tidak akan mampu shalat dua rokaat sekalipun ? Kita tidak akan mampu membaca al-Qur’an satu ayatpun ? Kita tidak akan mampu bertasbih, bertahmid, bertahlil, atau beristighfar satu kalipun. Kita tidak akan mampu berpuasa seharipun, atau bersedekah meski sepeserpun. Kita tidak akan mampu melakukan haji ataupun umroh lagi. Waktu beramal telah berlalu, yang tertinggal adalah hisab dan pembalasan terhadap kebajikan atau dosa-dosa. Rasulullah solallahu‘alaihi wassalam bersabda:Perbanyaklah olehmu mengingat penghancur kenikmatan yaitu : mengingat kematian”. HR. Tirmidzi dan Nasa’i dan Ibnu Hibban menshohihkannya.

Saudaraku…Manakah persiapan kita untuk berjumpa dengan malaikat maut ? Manakah persiapan kita untuk menghadapi hal-hal dahsyat sesudah kematian ? Dalam kubur, saat ditanya oleh dua malaikat, saat di Padang Mahsyar, saat hisab, saat dibukanya lembaran catatan amal perbuatan, saat meniti jembatan Ash-Shiroth, dan saat berdiri di hadapan Allah ‘Aza wa Jalla.

Di waktu yang baik, sehabis shalat, sebelum tidur, saat mentadaburi ayat-ayat-Nya ataupun di penghujung malam ketika kita bersimpuh pasrah di hadapan-Nya, pernahkah terbayang seandainya saja kita mati dalam keadaan yang buruk, mati dalam kubangan lumpur kemaksiatan, mati dalam keadaan su’ul khatimah, sedangkan kita belum sempat untuk bertobat ? dan siapkah kita menanggung azab kubur yang mengerikan ? na’udzubillah min dzalik. wallahu a’lam bisshowab.¨

HATI

April 19th, 2008 by mujahidah-sea

<!–
/* Font Definitions */
@font-face
{font-family:"Comic Sans MS";
panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4;
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:script;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}
@font-face
{font-family:"comic00A sans ms";
panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;
mso-font-alt:"Times New Roman";
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-format:other;
mso-font-pitch:auto;
mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>

KENAPA AKU DIUJI?
"Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan saja
mengatakan; "Kami telah beriman," sedangkan mereka tidak diuji? Dan
sesungguhnya kami telah menguji org2 yg sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah
mengetahui org2 yg benar dan sesungguhnya Dia mengetahui org2 yg dusta." -Surah
Al-Ankabut ayat 2-3

KENAPA AKU TAK DAPAT APA YG AKU IDAM-IDAMKAN?
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan
boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah
mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." -Surah Al-Baqarah ayat 216


KENAPA UJIAN SEBERAT INI?
"Allah tidak membebani seseorang itu
melainkan sesuai dengan kesanggupannya. " -Surah Al-Baqarah ayat 286

 

RASA FRUSTASI?
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan
janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah org2 yg paling tinggi
darjatnya, jika kamu orang-orang yg beriman." - Surah Al-Imran ayat
139

AKU DAH TAK DAPAT BERTAHAN LAGI!!!!!
"… ..dan jgnlah kamu berputus asa drp
rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum
yg kafir." -Surah Yusuf ayat 12

 

KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?
"Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan
selain drNya.
Hanya kepadaNya aku bertawakkal. " -Surah At-Taubah
ayat 129

 

BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?
"Wahai orang-orang yang beriman!
Bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara
yang berkebajikan) , dan kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada kesabaran
musuh, di medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di
daerah-daerah sempadan) serta bertaqwalah kamu kepada Allah supaya, kamu
berjaya (mencapai kemenangan). " -Surah Al-Imran ayat 200

"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah)
dengan jalan sabar dan mengerjakan sembahyang; dan sesungguhnya sembahyang itu
amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk" -Surah
Al-Baqarah ayat 45

APA YANG AKU DAPAT DRPD SEMUA INI?
"Sesungguhnya Allah telah membeli dr org2 mu’min, diri, harta mereka
dengan memberikan syurga utk mereka… .." -Surah At-Taubah ayat 111

Wallohua’lam Bishowab

MAPAN DULU BARU MENIKAH, atau MENIKAH AGAR MAPAN ??? ^_6

April 19th, 2008 by mujahidah-sea

Ya, kemapanan merupakan salah satu pertimbangan para lajang untuk menikah. Tidak sedikit dari mereka yang memilih menunda untuk menikah jika belum mapan dari sisi keuangan.Adasaja ikhwan yang tidak mau melamar akhwat sebelum ia punya rumah sendiri atau memiliki karier yang mapan di perusahaan. Begitu juga dengan akhwat, beberapa dari mereka lebih berharap yang dating melamar adalah ikhwan yang sudah ‘jadi’, apalagi jika ia sendiri sudah cukup dari segi keuangan.

Kepada mereka juga sekali lagi saya hanya bisa katakan, anda mungkin hanya membuang waktu saja.

Saya ingin membawa sedikit analogi dengan mengajak anda untuk mengenang kembali kapan terakhir anda melihat pemandangan yang sangat indah dari dataran yang lebih tinggi. Pemandangan dari puncak lembang, atau daerah perkebunan teh yang sejuk di ciwidey misalnya, atau mungkin cukuplah pemandangan dari pelataran Masjid at-Ta’awun di daerah puncak, Subhanalloh sekali, betapa Alloh telah menciptakan bumi dengan begitu indahnya.

Jika anda sangat menikmati dan merasa takjub melihat pemandangan dari atas, saya ingin bertanya, Apakah sama rasanya berjalan kaki naik ke atas puncak gunung, lalu melihat pemandangan yang menakjubkan dari atas sana, dengan melihat pemandangan tersebut dari hasil jepretan kamera saja? Saya yakin tentunya akan berbeda.

Atau satu contoh lagi, bagaimana jika anda kemudian naik helikopter dan tidur selama perjalanan, lalu begitu mata anda terbuka, anda sudah berada di puncak gunung dan melihat pemandangan yang sama. Apakah sama rasanya dengan naik dulu ke puncak gunung untuk melihat pemandangan tersebut? Sudah pasti rasanya tidak sama.

Ketika kita harus jalan kaki naik gunung tersebut dengan susah payah, maka perasaan ketika melihat pemandangan tersebut menjadi sangat berbeda sekali dibandingkan dengan melihatnya langsung dari helicopter atau melihat rekaman gambarnya saja. Yang membuat rasanya berbeda bukanlah kualitas gambar yang dih`asilkan mata dan kamera, melainkan pad`a `proses pencapaiannya.

Ada proses yang mesti dijalani terlebih dahulu, yang tentu menambahkan keindahan yang kita peroleh setelah berusaha. Begitu juga akan berbeda rasanya ketika kita langsung melihat pemandangannya tanpa harus bersusah payah dahulu untuk mendaki gunung. Pemandangan yang dilihat memang sama, tetapi perasaannya akan berbeda karena prosesnya yang berbeda.

Setelah capai naik gunung, kita akan melihat pemandangan itu sangat indah sekali. Seakan-akan, terbayar sudah kepenatan kita mendaki gunung dengan suguhan pemandangan alam yang menakjubkan. Namun, ketika melihat pemandangan itu tanpa harus bersusah payah mendaki gunung, mungkin pemandangannya hanya akan terlihat indah dimata, tapi kurang memberikan kesan di hati. Apalagi jika hanya melihat gambarnya saja, rasanya mata pun kurang puas melihatnya.

Tanyakan saja pada para pencipta alam yang masuk keluar hutan, dan naik turun gunung. Yang mereka sukai bukanlah berada di puncak gunung, yang mereka sukai adalah proses untuk bisa berada di puncak gunung dan menikmati ‘kemenangan’ atas kerja keras mereka.

Begitu pula dengan proses pernikahan. Menunggu kemapanan ekonomi untuk menikah ( atau dinikahi ) dapat dianalogikan seperti naik helicopter dan ingin langsung melihat pemandangan tanpa melalui susah payahnya mendaki gunung.

Mungkin contohnya akan lebih mengena jika saya ajak anda untuk memperhatikan para pemancing. Cobalah perhatikan mereka yang punya hobi memancing dan rela menghabiskan waktunya secara rutin di tempat pemacingan. Mereka tidak melakukannya untuk mencari nafkah, mereka juga tidak melakukannya karena sangat suka makan ikan, mereka melakukannya memang karena sangat hobi dengan memancing.

Jika dipikir secara logika keuangan, sepertinya aneh sekali mereka mau mengeluarkan uang yang tidak sedkit untuk bisa memancing. Mulai dari harga alat pancing, umpan, dan tiket masuk atau biaya keanggotaan di tempat pemancingan. Jika dipikirkan kembali, sepertinya biaya yang mereka keluarkan tadi tidak seimbang dengan harga ikan yang akhirnya mereka tangkap.

Mereka rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk bisa memancing. Padahal, jika mereka membeli ikannya di pasar, bisa jadi akan lebih murah. Tapi penilaian itu adalah penilaian kita yang melihatnya dari permukaannya saja. Yang mereka hargai bukanlah bisa memiliki atau membeli ikannya, tetapi yang lebih berharga bagi mereka adalah kepuasan untuk menjalani proses memasang umpan, menunggu ikan, sampai beradu otot dengan sang ikan ketika harus menarik tali pancingan yang terbetot karena ikan memakan umpan. Proses itu semua lebih berharga daripada ikan yang mereka tangkap itu.

Percayalah, perasaannya akan sangat berbeda sekali jika anda dan pasangan anda berjuang bersama dari titik nol menuju titik kesuksesan daripada anda mengajak pasangan anda untuk langsung berada di titik kemapanan. Sebagian dari laki-laki berpendapat, mereka tidak ingin mengajak pasangannya sengsara. Biarlah mereka saja yang melalui sulitnya menuju kemapanan, dan nantinya mereka akan mengajak calon pasangan hidup mereka untuk berumah tangga setelah mereka sudah mapan agar pasangannya kelak tidak perlu merasakan kesulitan dan susah payahnya mencapai kesuksesan.

Hem….,buat saya ini Cuma pembenaran saja dari ketakutan para lajang dalam menghadapi cobaan ( berdua ). Mereka mungkin hanya tidak ingin terlihat ketika SEDANG gagal, mereka hanya ingin terlihat SUDAH berhasil. Tapi tidak bagi saya, hidup berumah tangga itu akan terasa lebih nikmat dan lebih bahagia apabila kita dan pasangan kita merasakan betapa butuhnya perjuangan dan pengorbanan dalam hidup ini. Dimana kita dan pasangan kita mulai dari titik nol dalam hidup berumah tangga tanpa campur tangan perekonomian kedua orang tua kita.Sangat miris sekali saat melihat pasangan yang berumah tangga nilai kemapanan mereka karena hasil jerih payah kedua orang tuanya, itu tidak ada nilai apapun dibandingkan susah payahnya kita dan pasangan kita saat mengambil keputusan untuk hidup mulai dari titik nol lagi.

Keindahan pemandangan alam bukan Cuma karena komposisi warna dan tata letak yang enak dipandang, keindahannya terletak pada bagaimana proses untuk melihat pemandangan tersebut. Kepuasan memancing juga bukan karena ikannya, tapi proses sampai mendapatkan ikannya. Begitu juga keindahan pernikahan juga tidak terletak pada bagaimana hasilnya nanti, tapi bagaimana proses mewujudkan hasil tersebut bersama-sama.

Bahkan kalau mau jujur, dibalik kunci kesuksesan para tokoh dunia, ada para istri yang mendukung disampingnya. Tengok saja sejarah Nabi Muhammad SAW, betapa Khadijah saat itu memberikan support yang besar ketika awal penyebaran islam. Lalu, coba kita kaji kembali bagaimana Aisyah dengan qana’ahnya selama mendampingi Rosululloh di masa kejayaan islam dengan tetap hidup sederhana dan bersahaja. Mudah-mudahan kita pun seperti Khadijah ataupun Aisyah yang merupakan dibalik kunci kesuksesan suami mereka adalah adanya para istri sholihah yang selalu mendukung suaminya.Amiin.

Jadi…Percayalah perasaannya akan sangat berbeda sekali jika anda dan pasangan anda berjuang bersama dari titik nol daripada anda mengajak pasangan anda langsung berada dititik kemapanan.

Wallohua’lam Bishowab

KKN ( Kuliah, Kerja, Nikah) WHY NOT?? SIAPA TAKUT!! ^_*

April 19th, 2008 by mujahidah-sea

<!–
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>

Sering kali
banyak orang mengartikan, kuliah untuk mencari kerja yang layak, dan setelah
bekerja barulah layak untuk menikah. Itulah gambaran kesempurnaan seseorang
dalam menjalani hidup di masyarakat. Sehingga menunda menikah karena kita
merasa belum mapan untuk menjalani mahligai rumah tangga. Memang ketiganya
merupakan suatu keteraturan, masuk akal juga. Akan tetapi paradigma orang-orang
yang berpikiran seperti itu, tidak semuanya benar. Tapi tunggu dulu, jika kita
mampu menjalankan ketiganya dalam tempo bersamaan, ada nilai plus yang akan
kita dapatkan, tidak hanya dari manusia akan tetapi dari Alloh SWT. Kesempatan
untuk memperoleh amal sholeh dari ketiganya akan semakin banyak, karena tidak
dijalankan satu-satu akan tetapi secara bersamaan. Sungguh!! Bila kita mampu
memahami makna kuliah, kerja,nikah dengan sebenarnya bukan seperti yang
dipahami kebanyakan orang, tentu kita akan menemukan keasyikan tersendiri saat
menjalaninya. Status kita sebagai seorang mahasiswa/I akan lebih terasa hidup
dan bermakna, bukan hanya sekedar rutinitas belaka Kita akan merasa betapa
indahnya bisa belajar sambil bermesraan dengan pasangan kita ( tanpa menimbulkan
fitnah), betapa indahnya tugas kerja kita dibantu oleh pasangan kita,dan betapa
indahnya ada seseorang disamping kita yang selalu menghibur di sela-sela
penatnya kuliah, betapa indahnya ada tempat curhat yang 100% lebih terjamin
kerahasiaannya yang selalu siap mendengarkan keluh kesah kita.WAH POKOKNYA
SUBHANALLOH SEKALI DECH???Kalau kita beralasan karena materi itu masalahnya
yang menghalangi untuk melaksanakan ketiganya“INGAT REZEKI ALLOH TERBUKA
LEBAR-LEBAR BAGI KITA YANG MAU BERIKHTIAR. Alloh mudah saja membuka lebar
rezeki asal kita mensyukuri atas nikmatNya dan selalu bersabar dan mudah juga
bagi Alloh untuk memsempit rezeki bagi kita yang selalu ingkar atas nikmatNya.
Memang manusia itu cenderung memiliki kekhawatiran akan kesulitan duniawi. Tetapi
bukankah menikah adalah salah satu dari sekian banyak rezeki dari Alloh?  

“Barangsiapa
yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
Dan memberinya rizki dari arah yang
tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Alloh niscaya
Alloh akan mencukupkan ( keperluannya)nya. Sesungguhnya Alloh melaksanakan
urusan ( yang dikehendaki )Nya. Sesungguhnya Alloh telah mengadakan ketentuan
bagi tiap-tiap sesuatu.” ( QS. Ath-Thalaq : 2-3 )

 

 Kuliah
merupakan langkah ikhtiar seseorang untuk membentuk kematangan dalam berpikir
sehingga lebih mampu untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Bidang-bidang ilmu
yang ditekuni akan mengantarkannya untuk bisa menjalani kehidupan secara lebih
terprogram. Paling tidak kita punya bekal ilmu dalam bidang kuliah yang kita
ambil untuk mendidik anak-anak kita kelak dalam hidup berrumah tangga.
Sedangkan bekerja adalah langkah ikhtiar seseorang untuk memperoleh rezeki dari
Alloh. Tidak mungkin selamanya kita tergantung hidup pada kedua orang tua atau
orang-orang disekitarnya. Lebih-lebih jika kita sudah menikah, seorang kepala
rumah tangga harus bekerja sebagai suatu kewajiban untuk menghidupi keluarga.

 Lain
lagi dengan menikah, tidak sedikit orang memahami pernikahan sebagai terminal
akhir mereka yang telah selesai kuliah dan memperoleh pekerjaan yang mapan.
Pemahaman ini harus diluruskan. Bagi seorang muslim, pernikahan dapat
diumpamakan sebagai kendaraan yang harus segera dinaiki dalam rangka
menyempurnakan setengah diennya. Tidak perlu menunggu lulus dan memperoleh
pekerjaan yang mapan dulu untuk bisa menikah, karena dengan demikian dia telah
kehilangan banyak waktunya untuk bisa menyempurnakan setengah diennya. Kepada
mereka, saya hanya bisa katakan, Anda mungkin hanya bisa membuang waktu saja.
Alasan kita misalnya takut untuk melakukan itu semua, belum siaplah, inilah,
itulah??kalau misalkan kita takut dengan sesuatu yang kita takutkan, maka hal
yang kita takutkan itu sewaktu-waktu akan terjadi pada diri kita.Intinya OPTIMIS
Sajalah!! Skenario Alloh sangat begitu indah bagi kita yang berikhtiar dan
percaya pertolongan Alloh pasti ada bagi hambanya yang selalu berniat untuk
kebaikan. So, Seorang muslim sejati adalah mereka yang tidak hanya melangkah
berdasarkan logika akal dan emosi semata tetapi mereka akan menggunakan
keimanan mereka sebagai pijakan setiap langkahnya. Dengan keimanan mereka akan
mampu melihat segala sesuatu sebagai hal yang telah digariskan Alloh. Untuk
itu, mereka akan berikhtiar semaksimal mungkin lalu memasrahkan hasilnya hanya
kepada-Nya. Jadi bagi bagi saya pribadi “Kuliah, Kerja, Nikah”Why Not??

Wallohua’lam bishowab.

Jika Kenyataan Tak Seindah Impian T_T

April 19th, 2008 by mujahidah-sea

<!–
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>

Mungkin ada yang memiliki impian
bahwa kelak ketika datang sebuah lamaran, sang pelamar adalah orang yang telah
mapan, baik keagamaan maupun financial. Tapi, janganlah lantas impian ini
menjadi sebuah persyaratan mutlak yang diajukan untuk para ikhwan yang memang
bersungguh-sungguh meminang.

 Karena
jodoh adalah salah satu ketentuanNya, maka bersiaplah menertima apa yang telah
Alloh tentukan. Bukan tidak mungkin jika ternyata kondisi yang terjadi kemudian
malah jauh dari harapan. Ketidakmampuan ikhwan untuk menanggung beban nafkah
harus juga disikapi dengan bijaksana oleh akhwat. Bukan dengan balik kanan
kemudian minta dipulangkan, namun dengan cara mendukungnya agar bias
menyempurnakan kewajiban nafkahnya. Yakinlah bahwa Alloh pasti memberikan yang
terbaik bagi kita, dan perlu usaha yang gigih dan kesabaran untuk mencapainya.

 Bila
memang diperlukan, akhwat juga tidak dilarang untuk berperan dalam proses
mencari nafkah untuk keluarga ( asalkan kalau memang sudah nikah atas siizin
suaminya). Jika pada ikhwan kita bicara bahwa mencari nafkah adalah kewajiban
bagi mereka, maka untuk akhwat, mungkin akan lebih tepat untuk menyebutnya
sebagai tuntutan kemanusiaan. Hati ibu mana yang tega melihat anaknya
kekurangan gizi karena nafkah yang tidak memadai.

 Hal
ini bukan berarti ikhwan bisa ongkang-ongkong kaki. Karena yang namanya
kewajiban tetaplah kewajiban. Walau kewajiban memenuhi kebutuhan keluarga
dibantu oleh istri, kewajiban suami untuk mencari nafkah tidaklah luntur
lantaran istri turut serta membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup ini. Bagi
istri yang ikhlas melakukan itu semua, semoga Alloh menjadikan segala usahanya
itu sebagai sedekah yang dibalas dengan balasan yang berlimpah. Bagi suami,
semoga kondisi ini menjadi bahan bakar motivasi untuk lebih banyak memperbaiki
diri dan berusaha lebih keras lagi.

 Realitanya
sekarang ini istri lebih banyak beraktivitas diluar rumah ( bekerja ) dan
malahan sebaliknya suami tinggal di rumah untuk mengurusi kegiatan rumah
tangga. Hal ini memang syah-syah saja asalkan istri ikhlas dan suami pun
mengizinkannya, tapi tidak begitu mudahnya jika kita mengaitkan masalah ini
dengan betapa banyaknya problematika rumah tangga gara-gara penghasilan (
materi ) karena penghasilan istrinya lebih gede ketimbang suaminya maka sang
istri minta cerai, karena sibuknya aktivitas istri di luar rumah sehingga
kewajibannya dirumah terbengkalai akhir-akhirnya anaklah yang menjadi korban,
akibat aktivitas sang istri yang padat diluar rumah dari pagi hingga petang
yang ujung-ujungnya sang istri mempunyai PIL ( Pria Idaman Lain ) Naudzubillahimindzalik.
Alangkah indahnya apabila dalam mengarungi mahligai rumah tangga itu baik sang
suami maupun istri lebih memperhatikan lagi hak dan kewajiban mereka
masing-masing sehingga terbinanya keluarga sakinah, mawadah,warohmah.

 Penghasilan
yang tidak seberapa bisa jadi karena ikhtiar yang belum sempurna, mungkin juga
karena doa yang terputus atau maksiat yang menghalangi rezeki Alloh. Maka
hendaknya sang istri banyak bersabar dan sang suami banyak berikhtiar. Wallohua’lam
bishowab.

Ibu Mertuaku ^_^

February 12th, 2008 by mujahidah-sea

Ibu
Mertuaku…^_^

 

Wuuuiih…memang
terkadang kalau kita bicarakan tentang ibu mertua terbesit dipikiran kita sosok
perempuan yang kadang-kadang banyak mengatur inilah itulah, protes sanalah
protes sinilah.cek cok dengan menantunya atau banyak permasalah yang
lainnya.hal ini pun terjadi pada diri saya pribadi, bahwa sosok ibu mertua
adalah seorang ibu yang sangat luar biasa yaa khususnya telah melahirkan
seorang pemimpin bagi saya baik itu di dunia maupun diakhirat kelak.pertama
yang saya bayangkan bahwa mempunyai ibu baru setelah ibu kandung adalah satu
masalah baru yang kelak akan saya hadapi, apalagi kalau kita beda pendapat,
beda pikiran,dan beda pemahaman.apalagi ditambah beda adat istiadat dan
kebudayaan.uuuuiiih ( membuang nafas )mungkin kalau sama ibu kandung sendiri
walaupun ada satu masalah yang sulit tapi yaaa mudahlah untuk saling memahami
karakter masing-masing.tapi kalau sama ibu mertua kan beda lagi pembahasannya.perang
mulut terjadi disebelah rumah saya gak pagi,gak siang,gak sore,gak malam kata-kata
kasar terdengar baik itu si menantu perempuan dan si ibu mertuanya Cuma
gara-gara mempermasalahkan anaknya minta jajan ke ibu mertuanya itu.hal ini pun
terjadi pada teman saya, dia ada masalah dengan ibu mertuanya gara-gara ibu
mertuanya selalu ikut campur dalam masalah rumah tangganya.banyak lagi konflik
antara menatu perempuan dan ibu mertua.dan hal ini pun terjadi pada diri saya
pribadi tapi yang saya alami bukanlah konflik akan tetapi memaknai sebuah rasa
saling menyayangi diantara menantu dan ibu mertua.saya teringat pada sebuah
diskusi disalah satu radio islami di bandung yang mengisahkan tentang berbagai
masalah yang dihadapi seorang menantu dan ibu mertuanya.bahwa si ibu mertua gak
pernah berpikir bahwa dia juga pernah jadi menantu dan mempunyai ibu mertua,
dan si menantu juga gak berpikir kalau dia kelak akan jadi ibu
mertua.pengalaman saya pribadi pertama kali yang saya pikirkan setelah menikah
adalah bagaimana saya dapat melakukan hal yang baik dan memberikan yang terbaik
bagi keluarga suami saya.apalagi dengan kultur kami yang berbeda baik dari segi
bahasa, adat,dll.tak jadi halangan dengan hal itu bagi saya untuk memberikan  yang terbaik baik dari segi sikap (prilaku)
ataupun tutur kata.Ternyata alhamdulillah dengan niat kita yang tulus karena
Allah SWT dan Karena ibadah kepada-Nya, segala yang saya khawatirkan hilang
lenyap, malahan rasa kasih sayang, dan perhatian yang amat besar yang saya
dapatkan dari beliau.kita jangan menuntut orang lain untuk dapat memahami
karakter kita,akan tetapi alangkah indahnya apabila kita mengerti dan memahami
karakter orang lain.Makasih yaaa bu!!!!dirimu

kan

selalu ada di dalam hatiku…..!!!

Jangan Pelit Memuji Pasangan Qta

January 24th, 2008 by mujahidah-sea

Suatu saat saya berbincang dengan seorang ibu rumah tangga tentang
memuji pasangan. Dia terkejut ketika tahu bahwa saya dan suami sering
saling memuji, karena dia berpikir itu bukanlah hal penting dan bisa
membuat pasangan GR. Saya tersenyum, mengingat betapa seringnya kami
saling memuji hingga kadang pipi memerah karena senangnya. Tadinya saya
pikir kebiasaan saling memuji ini hanya bertahan selama awal pernikahan
saja, tetapi ternyata setelah sekian lama, kami masih sering melakukan
hal itu. Ada perasaan berbunga bunga ketika suami memuji kecantikan
saya saat saya berdandan rapi atau ekspresinya ketika memakan kue
buatan saya, hmmm..uenak banget dek…padahal saya tahu kuenya tidak
terlalu enak karena saya baru mulai belajar memasak ketika menikah.
Saya juga pernah melihat suami saya tersenyum senyum bangga saat saya
bilang..mas ganteng banget deh kalo pakai baju ini…..meskipun
setelahnya dia jadi sering memakai baju itu sampai warnanya memudar dan
bahannya menjadi rusak.

Memuji pasangan, mungkin bukan
perbuatan yang mudah tetapi juga tidak terlalu sulit,. Untuk sebagian
pasangan, memuji mungkin bukan hal yang penting tetapi bisa jadi
penting untuk suatu kondisi tertentu. Terkadang manusia butuh
penghargaan untuk memotivasi dirinya. Seperti halnya ketika suami
memuji masakan saya, meskipun saya tahu rasanya tidak jelas, tetapi itu
justru membuat saya bersemangat untuk membuat masakan dengan rasa yang
lebih enak lagi, saya tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya saya
kalau suami mencela masakan saya.

Seperti yang dikatakan teman
saya tadi, bisa jadi pasangan GR setelah dipuji, tetapi saya yakin
tidak ada orang yang tidak senang ketika dipuji, dan bukankah Islam pun
menganjurkan dalam rumah tangga untuk saling menyenangkan satu sama
lain. Bahkan Rasulullah pun sering menghargai dan menyenangkan hati
istri-istrinya dengan pujian. Begitu banyak pahala yang bertaburan
dalam suatu rumah tangga, dan memuji pasangan merupakan salah satu
pahala yang bertaburan itu, tinggal bagaimana kita apakah mau meraihnya
atau tidak.Kadang-kadang lidah ini sulit sekali untuk memuji seseorang terutama
pasangan kita. Terutama ada kata gengsi yang terucap, knapa mesti
gengsi yang kita puji adalah orang yang halal bagi kita. So…kenapa masih pelit memuji pasangan?

Ayoooooo…..Buat para istri dan para suami kita saling lomba untuk saling memuji pasangan kita.Oke???

Teruntuk calon bidadari syurga,rindukan jadi pemimpin bidadari di syurga kelak’amin’

August 8th, 2007 by mujahidah-sea

BIDADARI SYURGA

 

Ia mutiara terindah dunia
Bunga terharum sepanjang masa
Ada cahaya di wajahnya
Betapa indah pesonanya
Bidadari bermata jeli pun cemburu padanya
Kelak, ia menjadi bidadari surga
Terindah dari yang ada
(hanan)
***
Pernahkah saudaraku melihat seorang
bidadari? Bidadari yang bermata jeli. Yang kabarnya sangat indah dan
jelita. Saya yakin kita semua belum pernah melihatnya. Kalau begitu
mari kita ikuti percakapan antara Rasulullah sallallahu’alaihi wa
sallam dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha tentang sifat-sifat
bidadari yang bermata jeli.
—-
Imam Ath-Thabrany mengisahkan dalam
sebuah hadist, dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dia berkata,
"Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah
tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli’."
Beliau menjawab, "Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilai seperti sayap burung nasar."
Saya berkata lagi, "Jelaskan kepadaku tentang firman Allah, ‘Laksana mutiara yang tersimpan baik’." (Al-waqi’ah : 23)
Beliau menjawab, "Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia."
Saya berkata lagi, "Wahai Rasulullah,
jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Di dalam surga-surga itu ada
bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik’." (Ar-Rahman :
70)
Beliau menjawab, "Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita"
Saya berkata lagi, Jelaskan kepadaku
firman Allah, ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang
tersimpan dengan baik’." (Ash-Shaffat : 49)
Beliau menjawab, "Kelembutannya
seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung
kulit telur bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur."
Saya berkata lagi, "Wahai Rasulullah,
jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya’."
(Al-Waqi’ah : 37)
Beliau menjawab, "Mereka adalah
wanita-wanita yang meninggal di dunia pada usia lanjut, dalam keadaan
rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah
tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh
cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya."
Saya bertanya, "Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?"
Beliau menjawab, "Wanita-wanita dunia
lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti
kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak."
Saya bertanya, "Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?"
Beliau menjawab, "Karena shalat
mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya
di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih
bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan,
sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata,
‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat
sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali,
kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah
orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’."
Saya berkata, "Wahai Rasulullah,
salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga,
atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka
pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan
menjadi suaminya di surga?"
Beliau menjawab, "Wahai Ummu Salamah,
wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka
yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku,
sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup
bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai Ummu
Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia
dan akhirat."
—-
Sungguh indah perkataan Rasulullah
sallallahu’alaihi wa sallam yang menggambarkan tentang bidadari
bermata jeli. Namun betapa lebih indah lagi dikala beliau mengatakan
bahwa wanita dunia yang taat kepada Allah lebih utama dibandingkan
seorang bidadari. Ya, bidadari saudaraku. Sungguh betapa mulianya
seorang muslimah yang kaffah diin islamnya. Mereka yang senantiasa
menjaga ibadah dan akhlaknya, senantiasa menjaga keimanan dan
ketaqwaannya kepada Allah. Sungguh, betapa indah gambaran Allah kepada
wanita shalehah, yang menjaga kehormatan diri dan suaminya. Yang
tatkala cobaan dan ujian menimpa, hanya kesabaran dan keikhlasan yang
ia tunjukkan. Di saat gemerlap dunia kian dahsyat menerpa, ia tetap
teguh mempertahankan keimanannya.
Sebaik-baik perhiasan ialah wanita
salehah. Dan wanita salehah adalah mereka yang menerapkan islam secara
menyeluruh di dalam dirinya, sehingga kelak ia menjadi penyejuk mata
bagi orang-orang di sekitarnya. Senantiasa merasakan kebaikan di
manapun ia berada. Bahkan seorang "Aidh Al-Qarni menggambarkan wanita
sebagai batu-batu indah seperti zamrud, berlian, intan, permata, dan
sebagainya di dalam bukunya yang berjudul "Menjadi wanita paling
bahagia". Subhanallah. Tak ada kemuliaan lain ketika Allah menyebutkan
di dalam al-quran surat an-nisa ayat 34, bahwa wanita salehah adalah
yang tunduk kepada Allah dan menaati suaminya, yang sangat menjaga di
saat ia tak hadir sebagaimana yang diajarkan oleh Allah.
Dan bidadari pun cemburu kepada
mereka karena keimanan dan kemuliaannya. Bagaimana caranya agar menjadi
wanita salehah? Tentu saja dengan melakukan apa yang diperintahkan
Allah dan menjauhi segala laranganNya. Senantiasa meningkatkan kualitas
diri dan menularkannya kepada orang lain. Wanita dunia yang salehah
kelak akan menjadi bidadari-bidadari surga yang begitu indah.
NB : Duhai saudaraku muslimah, maukah
engkau menjadi wanita yang lebih utama dibanding bidadari? Allah
meletakkan cahaya di atas wajahmu dan memuliakanmu di surga menjadi
bidadari-bidadari surga. Maka, berlajarlah dan tingkatkanlah kualitas
dirimu, agar Allah ridha kepadamu.
wassalam

Berkerudung, Kok Perutnya Terlihat?

July 23rd, 2007 by mujahidah-sea

Berkerudung,
Kok Perutnya Terlihat?

"Hai nabi, katakanlah
kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin,
hendaklah mereka mengulurkan jilbab ke seluruh tubuhnya…"
(Alquran
Surah Al Ahzab ayat 59)

 

Dalam Pembahasan ini saya sendiri
akan mengulas sedikit tentang masalah “BAGAIMANA SICH SEORANG MUSLIMAH YANG
TOYIBAH MENGENAKAN PAKAIAN DAN JILBABNYA YANG SESUAI DENGAN SYARIAT ISLAM ?”

Saya tidak akan jauh-jauh
mengambil contoh, didaerah saya sendiri tepatnya di

Bandung

yang mayoritas penerapan keislamannya yang alhamdulillah baik dibandingkan
dengan kota-kota besar lainnya di

Indonesia

. Saat saya berada di
Masjid Raya Bandung Jawa Barat, cobalah mengamati busana kaum perempuan Muslim.
Baik itu anak-anak, remaja, dewasa, mahasiswa, ibu-ibu, maupun nenek-nenek.
Pemandangan menarik sekaligus memprihatinkan akan dapat kita saksikan. Sangat
miris sekali hati ini saat melihatnya.” Ya Allah orang-orang itu adalah saudara
seimanku “

Betapa tidak, di antara
perempuan Muslim itu ada yang memakai busana Muslimah ala kadarnya.

Ada

yang masuk ke dalam
masjid, berkerudung. Setelah keluar dari halaman masjid, kain kerudung pun
dicopotnya.

Ada

yang berbusana Muslimah rapi tatkala akan jalan-jalan dan bertemu atasannya di
kantor. Setelah keluar halaman masjid–kain kerudung yang melengkapi
busananya–dicopot, dan digantikan dengan topi.

Dapat kita saksikan perempuan
yang memakai kerudung gaul alias kain kerudung yang
"bongkar-pasang".

Ada

yang mengenakan kain kerudung, tetapi kedua daun telinga dan rambutnya
terlihat.

Ada

yang memakai busana Muslimah rapat-rapat, sehingga tidak ada satu pun bagian
auratnya terlihat. Yang terlihat, justru "benjolan" bagian dadanya
karena tubuhnya mirip "dilaminating". Kenapa? Selain itu, ada juga
perempuan Muslimah memakai busana agak longgar yang menutupi seluruh bagian
auratnya, kecuali telapak tangan dan wajah.

Di antara perempuan-perempuan
yang menutupi bagian aurat tubuhnya–yang mudah dijumpai di masjid atau
bukan–ternyata ada "komunitas perempuan" yang menjaga eksistensinya
dengan tidak melakukan perubahan yang ekstrem.

Mereka tetap bergaul dengan
rekan-rekannya seperti kalangan "ABG" (anak baru gede, red). Hanya
ironisnya, di antara mereka ada yang kebablasan alias menutup aurat
tubuhnya terlalu kencang sehingga "membentuk" bagian tubuhnya.

Ada

juga yang menutup
aurat tubuhnya, hanya pada bagian tertentu. Bagian lainnya–yakni pinggang atau
lingkar perut–dibiarkan terbuka, sampai-sampai celana dalamnya terlihat.

Anak-anak atau remaja yang
menutupi aurat tubuhnya dengan

gaya

seperti itu, jumlahnya memang minim. Akan tetapi, keberadaannya yang sering
mencolok di tempat-tempat umum cenderung berdampak negatif pada kaum Muslimin.

Pemandangan ini sering kali
kita saksikan di angkot, bus, atau sarana transportasi umum lainnya. Di angkot,
misalnya, ketika remaja "ABG" masuk ke dalam angkot atau turun dari
angkot, selalu terlihat lingkar pinggangnya, termasuk celana dalamnya.
Sementara jika kita lihat bagian kepalanya, tampak tertutup kain kerudung.

REALITA rendahnya pemahaman
penggunaan busana Muslimah yang sesuai syariat Islam di kalangan remaja
"ABG", agaknya sejalan dengan minimnya contoh berbusana Muslimah yang
rapi yang ditunjukkan para orang tua.

Soalnya, banyak orang tua yang
berbusana Muslimah lebih cenderung ngetrend sebagaimana yang dipakai
para selebritis.

Contoh, kaum ibu yang berbusana
Muslimah dengan menampakkan bagian lingkar perutnya. Akibatnya, tentu sang anak
mencontohnya karena disangkanya berbusana model seperti itu sedang nge-trend.

Ada

pula busana kaum ibu yang bagian lehernya
dililit dengan kain kerudung. Sementara bagian dadanya, jelas ada dua
"benjolan" besar yang bisa menstimulus rangsangan syahwat lawan
jenis. Tak hanya itu, kerapkali kaum ibu yang masuk kategori ini, lebih senang
memakai celana panjang dan kemeja atau kaus ukuran ketat. Akibatnya,
lekuk-lekuk bagian tubuhnya mudah terlihat dan "menggoda" lawan jenis
yang menyaksikannya.

Konon, fenomena tersebut harus
dilihat kasus per kasus dan diamati secara arif dengan mengedepankan pemakluman
sehubungan perempuan yang berbusana semacam itu masih kategori
"proses" menuju sempurna.

Benarkah?

Jawabannya, ternyata beragam.
Menurut Drs. H. Bukhari Muslim, apabila mengetahui perempuan keliru dalam
berbusana Muslimah sehingga terlihat lingkar perutnya atau lekuk-lekuk
tubuhnya, hendaknya segera diingatkan. Kenapa? Karena, kalau dibiarkan, kelak
akan terus-terusan melakukan kesalahan dan hal itu berakibat fatal terhadap
dirinya sendiri maupun lingkungannya.

Bagaimana seandainya pemakaian
busana Muslimah itu meniru selebritis?

Dalam pandangan Bukhori Muslim,
dibolehkan saja meniru cara berbusana Muslimahnya selebritis. Adapun yang jadi
persoalan apakah

gaya

berbusana Muslimahnya kaum selebritis itu sudah sesuai dengan syariat Islam?

Karena, acapkali sebagian
selebritis berbusana Muslimah hanya untuk keperluan acting di layar
televisi atau sinetron. Seusai acara itu, mereka berbusana membuka auratnya
kembali.

Kalaupun memang berbusana
Muslimah, apakah modelnya benar-benar menutupi seluruh bagian aurat tubuhnya.

PROBLEM berbusana Muslimah
tentunya tidak terlepas dari semaraknya model-model busana Muslimah di pasaran.
Pasalnya, ada sejumlah desainer yang memproduksi busana Muslimah dengan tidak
memperhatikan aspek persyaratan sebagaimana diajarkan dalam Islam. Demikian
halnya, pola sosialisasi busana yang kurang memenuhi syarat itu secara tak
sengaja–atau mungkin juga disengaja–dapat disaksikan pada acara-acara fashion
show
. Umpamanya, ada sejumlah model atau bahkan selebritis yang bergaya
memakai busana Muslimah yang kurang memenuhi persyaratan tersebut. Lalu, pers
pun mengeksposenya, dan masyarakat pun menyerapnya serta terdorong untuk
mencontohnya dalam kehidupan sehari-hari.

Meski begitu, ada pula sejumlah
desainer yang sangat hati-hati dalam menciptakan produknya. Terkadang di antara
desainer itu ada yang berkonsultasi kepada ulama, sekadar meyakinkan bahwa
produk busananya telah sesuai dengan syariat Islam.

Di sisi lain, ada beberapa
desainer yang memberi nama produknya sekadar menimbulkan daya tarik masyarakat.
Umpamanya, "Rabbani" memberi istilah tertentu pada produk
kerudungnya.

Ada

yang namanya "Kismis" yang merupakan kepanjangan "kerudung
instan manis".

Selain itu, ada pula
"kerudung innova" dengan renda zipper di kepala.
"Kerudung ini semua merupakan hasil karya tim desain Rabbani yang dipimpin
Ibu Hj. Nia Kurnia Amri.

Menurut staf Rabbani, Siti M.,
kerudung bukan hal yang asing bagi setiap perempuan Muslim. Banyak jenis
kerudung yang beredar di pasaran, bahkan di beberapa outlet yang secara
khusus menyediakan satu jenis kerudung.

Lalu, apa syarat kerudung yang
sesuai syariat Islam?

Ajaran Islam tampaknya tidak
menentukan model kerudung atau jilbab yang harus dikenakan. Islam hanya
memberikan prinsip-prinsip dasar jilbab seperti kata ulama wanita asal

Riyadh

, Arab Saudi,
Jahrah Ahmad Al-Ma’iy.

Disebutkannya, (1) jilbab harus
menutup seluruh aurat sesuai dengan Alquran Surat Al Ahzabayat 59, (2) jilbab
tidak mencolok mata dan bukan tujuan untuk berbangga-bangga seperti tercantum
dalam Alquran Surat An Nur ayat 33. (3) Jilbab tidak terbuat dari bahan tipis
(tembus pandang/transparan) sehingga warna kulit pemakainya terlihat. "Di
akhir masa nanti akan ada di antara umatku wanita-wanita yang berpakaian,
tetapi telanjang…"
(H.R. Tabrani).

4) Jilbab dibuat longgar
sehingga tidak menampakkan bentuk tubuh. (5) Jilbab tidak sama dengan pakaian
pria karena Rasulullah melaknat wanita berpakaian seperti pria dan sebaliknya.
(6) Jilbab bukan perhiasan kecantikan. (7) Jilbab berbeda dengan pakaian khas
pemeluk agama lain. Rasulullah bersabda,"Janganlah sekali-kali kamu
berpakaian pendeta (Yahudi, Nasrani, dll) atau yang mirip dengannya. Siapa yang
memakainya berarti ia bukan umatku lagi."
(H.R. Tabrani).

Bisa saja,kalau kita
berhusnudzon jilbab gaul sebagai langkah
awal agar bisa mengenakan jilbab yang sesuai dengan ajaran Islam. Kalau hal ini
benar, maka sudah menjadi tugas kita selaku muslim dan muslimah yang
berakhlakul karimah yang selalu mengikuti sunnah Rasul-Nya untuk mengarahkan
pemakai jilbab gaul untuk lebih memahami dan mengamalkan Islam.

Afwan Jiddan apabila ada
saudara-saudaraku muslimah seiman dan seperjuangan yang kurang berkenan pada
bacaan ini, saya hanya insan biasa yang masih banyak kekurangannya mohon
dimaafkan saya hanya bias mengingatkan saja, hanya Allah SWT- lah yang mampu
memberi hidayah-Nya.Dan kita pun harus berusaha untuk menggapai hidayah-Nya
itu.Alangkah indahnya dunia ini apabila dihiasi dengan “INDAH PAKAIANNYA DAN
INDAH PULA AKHLAKNYA”

“PERHIASAN YANG PALING INDAH
ADALAH WANITA SHOLEHAH”

Insya 4JJI, 4JJI
huakbar……mujahidah ummat….

Wallahu’alam Bishowab.

Wassalamu’alaykum Wr.Wb

 

“Bila Jodoh Datang Menjelang”

December 9th, 2006 by mujahidah-sea

Subhanalloh temanya tentang "Bila Jodoh Datang Menjelang"Insya Allah ana disini akan membahas sedikit tentang permasalahan ini.Apabila akhwat dan ikhwan fillah sekalian mempunyai permasalahan yg sama ayuks..kta diskusikan bersama-sama.Jangan sampai karena perasaan antum sekalian yg menggebu2 pada si pulan dan si pulanah yg tidak tersampaikan dan tak terbalaskan malahan antum sekalian bersikap yang aneh dan berusaha bersikap menjatuhkannya.Naudzubillah..Wallahu’alam bishowab.
Bismillahirrahmannirrahiim…..
A.Yang Membuat Anda Jatuh Hati
    Latar belakang keluarga,lingkungan,dan pendidikan yang menjadi faktor perbedaan cara pandang seseorang terhadap cinta.Cara pandang yang berbeda ini yang memperngaruhi perbedaan sebab jatuh cinta.Walaupun demikian,secara garis besar,sebab-sebab jatuh cinta adalah :
1.Ada Pesona Keindahan (Fisik)
    Seorang laki-laki umumnya menilai wanita untuk pertama kali pada penampilan fisik.Hal ini sifatnya subyektif,artinya setiap orang berbeda beda dalam menilai fisik seorang wanita begitu juga sebaliknya.Apalagi jika dikaitkan dengan bentuk wajah,setiap wanita berbeda-beda,maka cara pandang laki-laki pun berbeda beda pula.Jika R tertarik pada S,belum tentu A,juga sebaliknya.Setiap orang berbeda-beda dalam memahami kecantikan.
    Namun pesona kecantikan wanita muncul tergantung pada keahlian wanita itu sendiri dalam merawat wajah dan tubuh.Wajah yang biasa-biasa menjadi tampak indah jika dirawat.Begitu juga dengan tubuh jika dirawat dengan baik akan memunculkan pesona tersendiri.
    Selain itu,faktor pakaian juga dapat menambah kecantikan fisik seseorang.Pakaian yang kotor dan kusam memberi kesan kumuh dan jorok.selain itu juga pakaian yang pantas untuk dipakai oleh seorang muslimah adalah yang menutup auratnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya.Jangan sampai berbusana tapi telanjang.Banyak kita lihat disekitar kita memakai kerudung tp tampak telanjang.Misalnya di kerudung tp tidak menutupi dadanya malahan di ikat kebelakang leher sampai tidak bisa melirik jika dipanggil,dan memakai pakaian yang ketat sampai-sampai seluruh lekukan tubuhnya tampak sekali.Sunggguh ini sangat mengiris hati khususnya untuk para muslimah.Laki-laki yang baik dan sholeh tidak akan suka dengan seorang wanita yang berpenampilan seperti itu.Untuk itu,kecantikan penting menjadi perhatian guna menambah keharmonisan.Rasulullah pun tampak lebih bahagia bersama siti Aisyah ra.dibanding istri-istri lainnya.Secara manusiawi diakui.Aisyah ra lebih cantik dari istri-sitri lainnya.Rasulullah pun menyebutnya dengan khumairoh (yang kemerah-merahan).Sebuah sebutan yang (dengan jelas) menunjukan perbedaan kecintaan dari istri-istri yang lain karena sebab kecantikannya itu.Namun islam,tidak pernah mensyaratkan keharusan mutlak akan kecantikan ini.Justru menekankan hal-hal ini diluar fisik.

2.Adanya Pesona Kepribadian
    Sebagian orang tidak mensyaratkan kecantikan fisik tapi lebih menjunjung tinggi kecantikan mental atau kepribadian.Kepribadian dinilai lebih abadi daripada fisik.Kepribadian ini meliputi akhlak yang mulia,setia,terbuka,dan wawasan luas terutama dari segi agamanya.Dari kepribadian yang unggul ini melahirkan sosok yang berwibawa      
    Dalam mengayuh rumah tangga,peran kepribadian ini hampir meliputi sisi-sisi kehidupan rumah tangga.Tanpa mentalitas (kepribadian)yang baik rumah tangga akan cepat usang.Apalagi jika muncul seribu satu problema rumah tangga,peran kepribadian sangat menentukan.
    Sementara unsur kecantikan sekalipun memang diperlukan,namun saat-saat tertentu tidak akan berarti.Apalagi jika dikaitkan dengan usia,kecantikan akan cepat pudar terlebih lagi jika tidak pandai merawatnya.
    Karena itu,tertarik pada pesona indahnya kepribadian seseorang sebagai landasan untuk mencintainya adalah cara pandang yang menyelamatkan masa depan.Bagaimana pun masa depan rumah tangga adalah masa depan generasi berikutnya yang perlu mendapat teladan yang baik dari para pelakunya (suami-isteri).Keteladanan ini hanya ada pada kepribadian yang baik bukan pada kecantikan wajah atau kemolekan tubuh.

3.Ada Perasaan ingin memiliki dan Ada keserasian (Kecocokan)
    Seorang laki-laki mengakui kecantikan (fisik)seoang wanita,mun tidak ada perasaan untuk mencintainya adalah laki-laki mata keranjang.Hanya berpikir untuk kepuasan nafsunya.Adapun laki-laki yang ingin memiliki wanita tersebut akan berusaha mencaru tahu siapa wanita itu.menanyakan statusnya,pendidikannya,dan yang terpenting adalah keluarga dan tempat tinggalnya.
    Cinta tidak akan terpadu jika hanya salah satunya melihat atau memperhatikan.Cinta akan terpaut manakala satu sama lainnya saling bertemu dan satu rasa(cinta).Jika ternyata wanita itu tidak memiliki cinta dan enggan untuk menemuinya,cinta akan bertepuk sebelah tangan.
    Seorang wanita yang mengetahui secara nyata bahwa laki-laki itu tidak mungkin dimikinya karena satu dan lain hal,umpanya dia sudah beristri,namun masih tetap membayangkannya dan berharap memilkinya,tergolong wanita perasa(cengeng).Sifat ini tidak layak ada pada wanita yang puas dengan cinta imajinatif.Yang terbaik adalah lupakan dia dan berusaha mendapatkan yang lainnya.
    Sementara itu jika mengacu pada nilai-nilai islam,maka pasangan yang baik adalah dari segi agamanya.Unsur-unsur yang lainnya menjadi nomor dua mengingat unsur agama yang akan menyelamatkan bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak.
    "Wanita dinikahi karena empat perkara :
    1.Karena harta bendanya,
    2.Karena Keturunannya,
    3.Karena Cantiknya,dan
    4.Karena agamanya.Maka pilihlah wanita yang memiliki agama,pasti kamu beruntung."(HR.Bukhari-Muslim,dari Abu Hurairah ra)

    Sabda Rasulullah SAW :
"Karunia terbaik yang diperoleh seorang mukmin setelah ketaatan kepada Allah adalah mendapatkan (menikahi)istri shalihah."(HR.Ibnu Majah)
"Wanita yang shalihah itu adalah wanita taat kepada Allah lagi memelihara dirinya ketika suaminya tidak ada,oleh karena itu Allah memelihara mereka."(QS.An-Nissa:4)

4.Memohon Petunjuk Allah SWT (Istikharah)
    Adukan semua beban dihati lewat shalat istikharah,mohonlah petunjuk-Nya untuk memberikan yang terbaik.
    Apalagi bagi wanita muslimah yang ingin menetukan pilihan terhadap sesuatu(yang terbaik)untuk mengerjakan shalat sunnat dua rakaat ini,selain yang diwajibkan,baik itu shalat sunnat rawatib maupun shalat tahiyyatul masjid,pada siang atau malam hari.Setelah membaca Al-Fatihah,dibolehkan baginya membaca surat apa saja yang dikehendakinya.kemudia diakhir shalat berdoa.
    Diriwayatkan dari Jabir,dia bercerita bahwa Rasulullah mengajarkan shalat sunnat istikharah (meminta petunjuk)kepada kami dalam segala hal.Sebagaimana beliau mengajarkan kepada kami sebuah surat dan Al-Qur’an,seraya berkata :Sesuatu hal,maka hendaklah ia mengerjakan shalat dua rakaat,selain shalat fardhu.Kemudian hendaklah ia berdoa:
"Ya Allah,sesungguhnya aku memohon petunjuk yang baik dengan pengetahuan-Mu.Aku memohon agar diberi kekuatan dengan kekuatan-Mu.Aku memohon kemurahan yang sangat luas,karena sesungguhnya Engkau berkuasa,sedangkan aku tidak.Engkau Maha Mengetahui,sedang aku tidak dan Engkau Maha Mengetahui segala yang ghaib.Ya Allah,jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut jenis perkaranya)baik bagiku,bagi agamaku,bagi kehidupanku saat ini dan masa depan,maka mudahkanlah ia bagiku.Kemudian berkahilah ia bagiku.Sedang apabila Engkau mengetahui bahwa perkara ini buruk bagki,bagi agamaku,bagi kehidupanku saat ini dan masa depanku,maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya.Berikanlah kepadaku kebaikan dimanapun adanya dan jadikanlah aku orang yang ridha dengan pemberian-Mu itu."(HR.Bukhari)Wallahualam Bishowab…